Pak Muklis adalah seorang Pengusaha Susu Keliling
yang tengah meregang hampir menemui ajal karena penyakit menahun
yang telah dideritanya di sebuah Rumah Sakit,,,
Ditemani istrinya disertai tiga orang anaknya, dengan terbata-bata,
dengan susah payah ia berusaha untuk berkomunikasi dengan mereka,,,
"Yono,,,! Untukmu Bapak wariskan 4 blok apartemen persis di belakang Rumah Sakit ini,,,!"
Yono (Sambil Berkaca-kaca Menahan Tangis): "Baik, Pak,,,! Terimakasih,,,!"
"Olan,,,! Kepadamu Bapak berikan enam deret rumah mewah di Cibubur,,,!"
Olan (Langsung Menangis Sesenggukan): "Iya, Pak,,,! Terimakasih, Bapaaak,,,!"
"Kamu Bello,,,! Kamu dapet perkantoran di Slipi Jaya dari lantai 5 sampai lantai 15,,,!"
Bello (Nggak Kuat Menahan Tangis): "Terimakasih, Pak,,,! Hiks, hiks, hiks,,,!"
"Dan terakhir, buat Ibu,,,! Ibu mendapatkan 3 komplek vila mewah di Pondok Indah,,,!"
Retno (Istri Pak Muklis): "Iya, iya, iya, Pak,,,! Nggak usah kepikiran, Bapak tenang saja,,,!"
Perawat Euis yang dari tadi mendengar percakapan antara Pak Muklis dengan anak-anak dan istrinya, berbisik kepada Retno Istri Pak Muklis: "Waaah,,,! Nggak nyangka ya,
Bapak walaupun hanya seorang pengusaha susu keliling, tapi warisannya,,,? Alhamdulillah ya,
Retno (Menimpali Komentar Perawat):
"Kalo kamu mau, saya bisa berikan warisan yang diberikan suami saya ke saya tadi kok,,,!
Saya ikhlas, sungguh, Suster,,,!"
Perawat Euis: "Ah yang bener,,,? Ibu serius apa cuma bercanda neeeh,,,?"
Retno: "Saya serius, Suster,,,! Saya kan sudah tua, nggak ada gunanya lagi warisan-warisan itu,,,!
Karena saya udah nggak kuat,,,!"
Suster Euis: "Kok nggak kuat sih, Bu,,,? Nggak kuat lagi buat pemeliharanaan vila-vila di Puncak, Bu,,,?"
Retno: "Bukan, Suster,,,!
Yang Bapak wariskan ke saya dan ketiga anak saya itu adalah RUTE ANTARAN SUSUnya,,,!
Saya udah nggak kuat lagi ngejalaninnya, Suster,,,"
Suster Euis (Tepok Jidat)
Suster Euis (Tepok Jidat)
TAKUT DIGAMPAR
Siang hari di sebuah warung makan datang seorang bapak2 tua yang lusuh keliatannya habis bepergian jauh,
dia menghampiri Busron yang sedang asyik nyeruput kopi susunya.
dia menghampiri Busron yang sedang asyik nyeruput kopi susunya.
"ma..mas, pe..pe..pengi..na..na..pan, ter..ter..dekat, le..lewat, ma..ma..mana..ya ?" kata bapak tua itu,
Busron yang ditanya hanya diam saja.
Busron yang ditanya hanya diam saja.
Bapak tadi bertanya lagi, "ma.. mas..,le..le..wat, ma..ma..mana, ka..ka..kalau.., mau ke..ke.., pe..pe..pengina..na..pan, ter...ter..de..dekat?"
Busro tetap diam, hanya memandang saja. karena tidak mendapat jawaban.
akhirnya Bapak itu pergi sambil menggerutu.
akhirnya Bapak itu pergi sambil menggerutu.
Tukang warung yang kebetulan melihat kejadian tersebut, menghampiri Busron dan bertanya :
"Bang.. kenapa gak dijawab pertanyaan bapak tadi.
Abang khan tukang ojek sini masa gak tahu jalan ke Penginapan?"
"Sa.. saya, se..se.. sebenarnya, ta..tahu.
"Bang.. kenapa gak dijawab pertanyaan bapak tadi.
Abang khan tukang ojek sini masa gak tahu jalan ke Penginapan?"
"Sa.. saya, se..se.. sebenarnya, ta..tahu.
Ta..tapi sa... saya, ta..ta...takut di ga..ga... gampar,...
di..dikira nge..nge...ngeledek."
jawab Busron pasrah.
di..dikira nge..nge...ngeledek."
jawab Busron pasrah.